Travels

Family Trip to Bali

December 2019 (3 persons/6 days 5 nights)

            Hai Sobat Kelana! Perjalanan ini dilakukan tanggal 11 Desember – 16 Desember 2019. Start dari Solo (Bandara Adi Sumarmo), walaupun kami dari Jogja. Kenapa? Karena pengen aja flight dari Solo (belum pernah soalnya) dan landing di Solo sekaligus kulineran di awal perjalanan dan di akhirnya. Sebelum flight kami makan nasi liwet di restaurant area Bandaranya dengan harga per porsi 50 rb. Yummy! Enak sekali! Worth it! Menuju ruang tunggu, saya pribadi suka dengan design waiting roomnya yang simple dan nyaman, tentu saja tidak hilang dari motif batik dan Jawa. Kami flight dengan maskapai Air Asia. Harganya mungkin kurang lebih sekitar Rp 1.200.000 (pergi-pulang) per orang.

            Tiba di Ngurah Rai Airport sekitar pukul 13.00 WITA. Ini perjalanan ke-4 kali ke Bali bagi saya dan ke-2 kali bagi orangtua saya. Biasa guys, kalau pergi selalu rombongan. Tapi ini menjadi yang pertama kami ke Bali via udara, karena biasanya naik bis dengan rombongan instansi masing-masing. Liburan kali ini bener2 pure (murni) liburan dan recharge energy. Kalau biasanya pergi-pergi ada acara yang harus dihadiri atau dalam rangka pekerjaan, kali ini mau liburan yang bener2 liburan. Setelah bulan lalu mendapat kesempatan untuk merasakan yang namanya operasi gigi dan sakit tifus selama total 1 bulan lebih. Jadi cukup menguras energi, pikiran, waktu, dan tenaga di semua lini.

            Bali adalah kota favorit saya. Kenapa? Tentu saja alasannya adalah karena kehidupan spiritual dan tradisinya masih berjalan sampai sekarang. It’s beautiful! Sekedar melihat beberapa orang membawa sesaji dan berdoa, menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Well, mari lanjut. Dari bandara, kami sudah memesan mobil via traveloka (antar-jemput bandara) karena kami punya poin sehingga diskonnya lumayan.

            Hotel yang kami pilih adalah Grand Mas Plus Legian. Kenapa memilih hotel tersebut? Karena mereka punya triple room. Itu penting karena bungsu tidak ikut dan kami hanya bertiga. Rating untuk hotel tersebut cukup lumayan di traveloka Semua fasilititas yang dimiliki hotel ini keren. Ada beberapa complimentary, misalnya bike rent, latihan melukis, latihan membuat canang sari, mengikuti upacara bulan purnama, dan masih banyak lagi. Saya sih sangat berminat, namun karena jadwal sudah disusun dan sudah padat, saya pikir kapan-kapan boleh deh dicoba kalau jadwalnya hanya staycation. Saya anti ngubah2 jadwal guys, karena semua tiket masuk wahana sudah reserved sebelumnya. Hotel ini cukup dekat dengan beberapa warung makanan padang (sekitar 500 m) dan bisa pesan lewat go-food. Untuk breakfast juara! Ada tambahan di fasilitas breakfst yang bisa kita minta untuk di bungkus dan dimakan siang. Lumayan penghematan guys! Di samping hotelnya ada tempat SPA yang murah juga. Bapak dan ibu yang nyobain SPA disana katanya lumayan. Saya gak nyoba karena ada jadwal ketemu teman yang sedang kerja di Bali waktu itu.

Hari pertama di Bali karena sampai sudah cukup sore, maka kami makan pesan go-food dan hanya jalan-jalan di sekitar hotel karena hujan. Padahal rencananya mau makan seafood di pinggir pantai. Gagal. Tapi kegagalan itu terbayarkan, karena pesan nasi padang dan rasanya enak!

Hari kedua marathon dari Museum Bali ke Pasar Sukawati lanjut ke Bali Safari.

Karena di hari ke-dua ini jaraknya cukup berjauhan, maka kami sewa mobil untuk sehari (via traveloka juga). Museum Bali tiketnya seharga 25 rb untuk wisatawan domestik dewasa, karena saya masih mahasiswa maka tiketnya menjadi sekitar Rp 10.000 saja. The power of mahasiswa, guys! Makanya kalau masih mahasiswa gunakan kesempatan itu untuk diskon tiket-tiket tertentu. Lumayan kan… Di Museum Bali, saya suka arsitekturnya keren, alias Bali banget. Koleksinya lumayan lengkap. Hanya ketika kami memilih tidak menggunakan tour guide masih saja dipaksa. Padahal kami memang hanya ingin sekedar meilhat-lihat dan foto-foto karena mengejar waktu ke destinasi selanjutnya.

Tempat selanjutnya adalah pasar Sukawati yang ternyata berpindah tempat karena pasar yang asli sedang dalam tahap renovasi dan pembangunan. Atmosfirnya beda sih. Tapi okelah. Saya ke sana karena memang ada tujuannya, yaitu beli kaos harga 15 ribuan untuk di pakai di rumah saja. Kaosnya tipis dan adem. Belinya langsung borongan. Di sini hanya membayar tiket parkir saja, seharga Rp 10.000,-.

Destinasi terakhir adalah Bali Safari. Sewaktu kami masuk, kami langsung melihat pertunjukkan atraksi satwa gajah, kemudian ikut tour menggunakan bus safari. Setelah itu kami istirahat di salah satu restaurantnya dan makan siang. Sorenya kami lanjutkan untuk melihat pertunjukkan Bali Agung. Menceritakan tentang legenda asli Bali berisi kisah cinta Sri Raja Jaya Pangus dengan luar biasa. Mulai dari lighting, property, hewan, gerak, dan lagu, semuanya luar biasa. Pertunjukan ter-keren yang pernah saya lihat. Keseluruhan kalau taman safari dan satwanya saya lebih suka di Batu Secret Zoo-Jatim Park 2, namun untuk pertunjukkannya memang keren. Untuk tiket di Bali Safari dengan pertunjukkan Bali Agung harganya Rp 275.000/orang. Kunjungan kami berakhir sekitar pukul 17.00 WITA. Sudah capek guys. Harusnya dari pagi sih, karena bagian marine parknya belum terjamah sama sekali. Next, balik lagi! Perjalanan dari area Bali Safari sampai ke hotel memakan waktu sekitar 2 jam.

            Hari ketiga, setelah sarapan kami jalan-jalan ke indomart terdekat beli air mineral karena persediaan air sudah mulai menipis. Pas mau bayar, kami tidak diberi tas plastik. Ternyata oh ternyata di Bali sudah ada kebijakan untuk mengurangi sampah plastik (baru browsing). Sehingga di semua tempat (minimarket, supermarket, dan oleh-oleh) tidak menyediakan tas plastik. Bali keren, euy! Jadilah kami jalan sambil gotong-gotong aqua. Sekitar jam 9-an kami pergi ke Pantai Legian untuk menikmati matahari pagi (ceritanya sunbathing gitu guys). Foto-foto (sempat difotokan turis asing, padahal kami tidak minta tolong, baik hati sekali mereka) dan bersantai di pinggir pantai sambil minum air kelapa. Eh, kebetulan yang punya warung orang Jawa. Ngobrol deh. Bersantai di pinggir pantai kurang lebih 3 jam sambil menunggu kamar dibersihkan. Di sana mengamati banyak kegiatan di sekitar pantai. Ada turis manca berjemur, latihan surfing, bermain dengan anjing, dan juga mengumpulkan sampah. Di situ aku malu banget guys, kita yang WNI tapi yang lebih sayang sama pantai kita malah turis asing. Sekitar pukul 12.00 WITA kembali ke hotel untuk makan, isirahat, dan bersiap diri karena pukul 15.00 WITA kami akan pergi ke GWK.

Sekitar pukul 16.00 WITA tiba di GWK dan kaget karena area depannya sudah berubah, kemudian jalur masuknya juga berubah. Agak-agak bingung sih, tapi akhirnya sampai juga. Ngapain di GWK? Tentu saja foto-foto dan menonton pertunjukkannya. Maklum anaknya penikmat seni guys!. Patung GWK sudah berdiri sempurna, cakep. Tapi tetep saya lebih terpesona dengan pertunjukkan kecaknya. Walaupun selama pertunjukkan sempat emosi dengan penonton yang suka berdiri seenaknya sendiri, menutup jalur pemain keluar-masuk. Sudah diatur dari stafnya tapi biasa kan kalau warga kita kebanyakan tidak tertib, bikin senewen sendiri sampai pulang. Hmm… Sebelum ke GWK alangkah baiknya searching jadwal pertunjukkannya, biar ga ketinggalan mau nonton yang mana. Karena ada beberapa pertunjukkan dalam sehari. Harga tiket masuk GWK sekitar Rp 100.000/ orang, dan semuanya reserved dulu by Traveloka.

Pulang dari GWK sudah pukul 19 WITA, jadi kami jalan, agak keluar area untuk cari grab. Lumayan rentang harganya dengan grab yang ada di area. Hahaha.

Hari ke-4 saya sudah ada janji untuk ketemu makan siang sama temen, anak Medan yang kebetulan kerja di Bali. Teh Inggrid, dia teman saya sewaktu volunteer Invitation Tournament Asian Games Februari 2018 di Jakarta. Kami ketemu di Transmart Bali, makan di bakso Budjangan. Bakso andalan saya nomer 2 setelah Bakso Sony di Lampung. Sampai saat ini belum ada yang mengalahkan enaknya 2 bakso itu, guys! Ke Transmart sekalian ke Carefour beli beberapa camilan untuk dimakan di hotel. Nah, selama saya jalan-jalan di luar, bapak dan ibu SPA di sebelah hotel. Lumayan lah untuk menghilangkan pegel-pegel selama liburan.

Sorenya, karena hari itu hari Sabtu, kami ke gereja Katedral. Ternyata Grab yang dipesan bawa mobilnya bikin ketar-ketir, maka ku putuskan untuk turun ke Mcd terdekat dengan alasan mau mampir makan. Padahal perjalanannya masih setengah lagi. Dan macet. Hmm.. Di Mcd beli es krim untuk healing sejenak karena lumayan ketakutan di dalam mobil sambil pesen grab yang baru. Pas banget sampai gereja, foto-foto diluar sebentar (mumpung masih ada cahaya, masih sore) kemudian misa dimulai. Hahaha.

Hari ke 5 harinya beli oleh-oleh. Maklum karena biasa pergi, kami selalu beli oleh-oleh untuk sekitar 15 keluarga. Kebayang kan banyaknya kaya apa? Hahaha. Tapi itu juga sekalian ucapan syukur kami karena kami berangkat dan pulang dengan selamat. Ke toko oleh-oleh Krishna pagi, belum cukup ternyata. Dirasa masih ada yang kurang, sore kami kesana lagi. Bapak dan Ibu tentu saja selalu membeli kain batik motif daerah yang sedang dikunjungi. Kalau saya, tentu saja belinya sea salt untuk berendam. Dan beberapa makanan untuk saudara-saudara dan kerabat. Kemudian beberapa kaos untuk di rumah, karena kainnya adem guys.

Hari ke-6 pulang ke Jogja! Kami berangkat dari hotel pukul 7.30 WITA padahal flight masih sekitar jam 11.00 WITA. Praise The Lord, karena kami memang tidak suka mepet, ternyata ada upacara di daerah yang kami lewati (macet poll). Sehingga kami sampai di bandara pukul 10.00 WITA. Padahal seharusnya, hotel-bandara perjalanan hanya ditempuh dalam waktu 45 menit paling lama. Belum sempat duduk di ruang tunggu sudah dipanggil untuk boarding. Gokil. Padahal ada shuttle dari hotel pukul 8.30 WITA. Kalau naik shuttle, pasti kami terlambat. Itulah gunanya berangkat lebih awal, guys. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi di jalan.

Masih Sempat Foto Sebelum Pulang (Sedang Christmas Sesion)

Sampai di Adi Sumarmo sekitar pukul 12.00 WITA langsung menuju restaurant Kusuma Sari (termasuk rumah makan yang legend di Solo) di Jl. Slamet Riyadi untuk makan sop buntut. Enak banget. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogja via KA Prameks. Sekian, cerita perjalanan kali ini! Semoga bisa menjadi referensi liburan dengan keluarga terutama dengan lansia. Hehehe. Memang jadwalnya tidak padat karena butuh jeda dan banyak istirahat. Ingat, tujuannya mau liburan, bukan mau kecapekan.

Next kalau masih diberikan kesempatan untuk ke Bali, kami akan mencoba staycation di daerah Ubud, pemandian air panas di Tabanan, dan wine Tour Sababay. Yeay! See you next, Bali! Wait us!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *