Travels

Tulisan Perjalanan di Pontinak-Kalimantan Barat-Indonesia, Februari 2017

Perjalanan ini bermula atas undangan saudara sepupu dari darah Bapak menikah. Saudara-saudaranya bapak memang tinggal dan bekerja di Pontianak, ada pakdhe dan paklik. Dahulu mengikuti program transmigrasi ke Pulau Kalimantan dari pemerintah pada masanya. Pakdhe berprofesi sebagai guru dan paklik adalah petani. Kami bangga karena keluarga secara tidak langsung menjadi bagian dari kemajuan pendidikan dan ekonomi nasional pada masanya.

            Kami merencanakan perjalanan dengan berkordinasi dengan sepupu yang lain yang sedang kuliah di kota, karena tempat tinggal pakde dan paklik di pedalaman Sanggau yang tidak terjangkau sinyal. Yang berangkat waktu itu adalah bapak, saya, dan adik naik pesawat express air dari bandara internasional Yogyakarta sekitar pukul 9 pagi. Tiba di Bandara Supadio Kalimantan Barat sudah siang dan di jemput oleh sepupu yang seumur hidup baru bertemu sekitar 2 kali. Langsung naik charteran mobil yang sudah dipersiapkan oleh mereka, mampir makan siang sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sanggau. Lama perjalanan ditempuh sekitar 6 jam, sampai rumah pakdhe sudah malam sekitar pukul 9 malam. Bayangkan betapa jauhnya perjalanan itu.

            Sampai di Sanggau langsung disambut oleh keluarga dan kerabat di sana. Kami disuguhi makanan dan minuman. Kami juga membawa beberapa oleh-oleh dari Jogja supaya bisa dibagikan ke keluarga dan tetangga yang disana. Obrolan adalah seputar Jawa, kangen nonton wayang dll. Kemudian berlanjut dijelaskan oleh pakde istri dan keluarganya yang merupakan suku Dayak asli.

            Pagi harinya kami disambut oleh dinginnya udara dan hujan gerimis. Saya kebanyakan di dapur dan bermain dengan anak dari mas sepupu. Bapak dan adik bercengkerama di halaman dan ikut pakdhe lihat-lihat kebon sawit. Kemudian hari berikutnya kami berkeliling melihat ternak pakdhe. Ada babi hutan, babi putih, celeng, ikan, ayam dan yang lainnya. Pakdhe punya kebun sayuran sendiri. Jadi kalau mau makan tinggal ambil hewan dan sayurannya kemudian diolah sendiri. Benar-benar tinggal di desa dan tidak ada sinyal. Kami juga berkunjung ke rumah-rumah sepupu yang sudah menikah dan punya anak. 1 area dengan rumah pakdhe dan paklik. Hari tanpa gadget membuat hari serasa lebih panjang dan lambat, namun sangat seru, seperti merasakan kehidupan yang sebenarnya dan tidak ada tekanan maupun ‘buru-buru’ yang tidak terlalu berarti.

            Hari-hari selanjutnya sudah disibukkan untuk persiapan pernikahan. Tim para wanita berangkat terlebih dahulu untuk memasak di rumah pengantin wanita. Membawa 1 ekor babi besar, beberapa bahan makanan, dan banyak alat memasak. Kemudian tim laki-laki beserta keluarga saya berangkat menyusul di hari berikutnya. Menempuh perjalanan sekitar 4 sampai 5 jam dari Kabupaten Sanggau ke Kabupaten Meliau. Sesampainya di sana kami disambut keluarga mempelai wanita kemudian acara makan bersama.

Hari selanjutnya dilaksanakan pemberkatan pernikahan di gereja. Saya diberi kesempatan membantu sebagai petugas liturgi yang membacakan bacaan sabda I. Kemudian selesai misa, dilanjutkan dengan resepsi 24 jam ala suku Dayak. Saya dan adik diberi kesempatan pula untuk menjadi bagian dari mereka dengan memakai baju adat Dayak. Terlihat pas! Kami makan 3 kali sehari di acara resepsi tersebut. Ditutup dengan menyanyi dan menari bersama dan tidak lupa dengan minum-minum tuak.

Bersama kedua mempelai, adik, dan keponakan.

            Hari selanjutnya keluarga kami berpamitan ingin melanjutkan perjalanan ke kota Pontianak selama 2 malam saja. Menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Meliau ke kota, kami langsung menuju ke hotel. Sesampainya di Hotel kami langsung bebersih diri dan istirahat. Kemudian mengajak para sepupu untuk makan malam dan melihat mall di Pontianak.

Makan malam di Solaria

Hari selanjutnya kami berkunjung ke Tugu Khatulistiwa, Keraton Kadariyah, dan rumah Radangk. Kemudian makan siangnya adalah nasi campur Asan. Enak sekali! Siang hari kami istirahat sebentar di hotel kemudian sorenya bertemu dengan para sepupu untuk melihat Sungai Kapuas sambal makan snack di atas perahu. Malam harinya kami misa di gereja Katedral Pontianak.

            Hari selanjutnya, pagi-pagi sekali adek sudah terbang Kembali ke Jogja karena siang ada kuliah wajib di kampus. Saya dan bapak melanjutkan untuk melihat Museum Kalimantan Barat. Di museum itu ada ruang pamer khusus berisi mantera dan ilmu perdukunan khas Dayak. Hal itu sangat menarik dan membuat saya kagum. Kami dijelaskan langsung oleh tour guide. Semua yang bertugas di museum milik negara tersebut berstatus PNS, namun pengetahuan dan penjelasannya membuat saya kagum. Berbeda dengan museum-museum negeri daerah lain yang pernah saya kunjungi. Setelah berkunjung dari museum kami melanjutkan untuk beli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Pontianak yang sangat saya sukai adalah Lempok Durian. Kami tidak terlalu banyak membeli kain khas karena sudah diberi oleh kakak sepupu. Malam harinya packing dan istirahat karena kami harus berangkat ke bandara pagi-pagi sekali.

Museum Kalimantan Barat

Sekian cerita perjalanan kali ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *